Ads

Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 April 2011

[Motivasi] 7 Langkah Kesabaran

Dari Milis


Sebuah rumah gubuk kecil berdiri anggun di tanah pegunungan yang indah dan hijau. Di gubuk yang terpencil itu, tinggallah seorang kakek tua yang sangat terkenal karena kebijaksanaannya. Banyak orang dari berbagai tempat datang kepadanya untuk meminta nasehat si kakek tua itu. Suatu hari, datanglah seorang pria yang telah tiga hari lamanya menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Sesampai di hadapan si kakek tua, pria itu memohon nasehat tentang bagaimana cara mengendalikan emosi yang tidak terkendali.


Setelah sejenak memandang pria tersebut, sang kakek tua nan bijak itu pun berkata, ”Anak muda, setiap kali engkau tersinggung atau terpancing untuk marah-marah, ingatlah Tujuh langkah kesabaran. Untuk itu, lakukanlah melangkah mundur tujuh langkah, lalu maju tujuh langkah, dan lakukan hal tersebut tujuh kali kali berturut-turut. Lakukan dengan langkah mantap sambil berhitung. Setelah itu, barulah engkau ambil keputusan bertindak."



[Motivasi] Menyukai Apa Yang Ku Dapatkan

p style="text-align: justify;">Dari Milis

AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEH KARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN.



Kata-Kata Diatas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa
damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.

Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.


Pertama: Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah anda telah memiliki sebuah rumah,kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tapi anda masih merasa kurang. Pikiran anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah,mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang.



[Motivasi] Batu-Batu Berharga

Dari Milis


Alkisah, di sebuah sekolah perniagaan, seorang guru besar sedang menyampaikan mata pelajaran tentang ekonomi sosial. Di depan kelas, dengan hati-hati si guru meletakkan sebuah toples kaca di atas meja. Dengan diikuti tatapan mata para siswanya, dia mengeluarkan sekantong penuh batu dan memasukannya satu persatu ke dalam toples itu sampai tidak ada lagi batu yang bisa dimasukkan lagi. Setelah melakukan hal tersebut, si guru bertanya kepada para siswanya, "Anak-anak, apakah toples ini sudah penuh?"


"Ya!" jawab mereka serempak.


Sambil tersenyum, sang guru meraih tas kedua dari bawah mejanya yang berisi batu kerikil. Dia kemudian menuangkan kerikil itu sambil menggoyang-goyangkan toples untuk mengisi celah-celah di antara batu-batu yang telah ada di dalam toples tadi. Untuk kedua kalinya, dia bertanya kepada para siswanya, "Sekarang, apakah toples ini sudah penuh?"


"Belum!" jawab mereka setelah tahu arah pertanyaan si guru.



Customer Service Excellence

Dari Milis


Persaingan di dunia bisnis yang semakin keras membuat kepuasan konsumen lama-kelamaan menjadi sesuatu yang generik. Perusahaan tidak lagi cukup memuaskan konsumen, mereka harus diberi lebih agar tidak berpindah ke perusahaan lain. Untuk merebut hati mereka, dibutuhkan satu keahlian baru yang kita sebut customer delight-bagaimana membuat konsumen terkesan dan senang.


Perbedaan antara memuaskan dan membuat konsumen terkesan terletak pada cara Anda menanggapi konsumen. Memuaskan konsumen berarti memberikan apa yang konsumen minta (reaktif), sedangkan membuat konsumen berarti memberi atau menawarkan segala sesuatu yang kinsumen butuhkan sebelum konsumen memintanya (proaktif). Dengan kata lain, membuat konsumen terkesan berarti bagaimana kita membuat diri kita seolah-olah dapat membaca pikiran konsumen dan tahu benar keinginan serta harapan mereka.

[Motivasi] Benda Yang Tidak Kita Bawa Ke Dunia Ini

Dapat dari milis


Alkisah seorang pria setengah baya yang mengalami stress berat dan hampir bunuh diri karena bisnisnya gagal dan semua tabungannya ludes.


Lalu, ia dibawa ke ahli phisikolog. Dengan mulut komat-kamit, ia berkata, "Saya telah habis...... saya telah habis.... dan habislah saya........."


Seperti orang yang bengong, kehilangan akal, namun ia masih sempat mengeluh.


"Semua yang saya rintis dari awal, lenyap seketika. Uang bermiliar-miliar yang saya kumpulkan menguap bagaikan gas. Tidak ada artinya hidup ini lagi ..... saya benar-benar sudah habis ... benar-benar habis.... dan habislah saya."


Setelah itu, ia tertunduk lesu. Air matanya seakan-akan tak tertahankan dan mulai membasahi kedua pipinya. Dari raut mukanya terlihat kesedihan yang amat mendalam.


Lalu dengan tenang, sang phisikolog yang dari tadi sengaja memberikan kesempatan kepada pria itu untuk mengeluarkan segala unek-uneknya, lalu bertanya, "Apakah kamu masih bisa melihat?"


"Bisa."



Pesan Ibu

Dari Milis


Suatu hari, tampak seorang pemuda tergesa-gesa memasuki sebuah restoran karena kelaparan sejak pagi belum sarapan. Setelah memesan makanan, seorang anak penjaja kue menghampirinya, "Om, beli kue om, masih hangat dan enak rasanya", "Nggak dik, saya lapar mau makan nasi saja "kata si pemuda menolak. Sambil tersenyum si anak pun berlalu dan menunggu di luar restoran.


Melihat si pemuda telah selesai menyantap makanannya, si anak menghampiri lagi dan menyodorkan kuenya. Si pemuda sambil beranjak ke kasir hendak membayar makanan berkata, "tidak dik, saya sudah kenyang". Sambil berkukuh mengikuti si pemuda, si anak berkata, "Kuenya bisa buat oleh-oleh pulang om". Dompet yang belum sempat dimasukan ke kantong pun dibukanya kembali, dikeluarkan 2 lembar ribuan dan mengangsurkan ke anak penjual kue "Saya tidak mau kuenya. Uang ini anggap saja sedekah dari saya".



Sabtu, 16 April 2011

Waktu Adalah Uang

Dari Milis


Anda tentu pernah naik taksi yang menggunakan argo. Bagaimana perasaan Anda saat jalanan macet ? Kesal tentunya dan bukan saja kesal dengan kemacetan jalan, tapi juga kesal ketika melihat argo yang terus bergerak naik. Uang kita "terbuang", padahal taksi tidak bergerak sama sekali alias tidak ada kemajuan. Di dalam taksi yang terjebak macet, waktu benar-benar adalah uang. Bagaimana bisa, selama 20 menit di dalam taksi yang tidak bergerak itu, kita benar-benar merasa pedih melihat uang kita "terbuang"? Karena di dalam taksi, waktu diberi NILAI (HARGA).

Emosi Yang Cerdas

Dari Milis


Pada kesempatan pertama ini, saya ingin mengajak anda berbicara mengenai Kecerdasan Emosional. Khusus kali ini, kita akan menjawab pertanyaan: kenapa sih orang menyebutnya emosi yang cerdas? Apa sebenarnya pengertian dibalik istilah Kecerdasan Emosional?


Ada banyak sekali definisi tentang kecerdasan emosional, namun apa pun definisinya, yang jelas kecerdasan emosional mengandung 2 kata yang luar biasa yakni: 'cerdas' dan 'emosi'. Kedua kata inilah yang mendorong riset puluhan tahun di bidang neuroscience (ilmu tentang syaraf) yang akhirnya menyimpulkan begini: pada intinya, kemampuan berfikir Anda mempengaruhi emosi Anda, demikian pula sebaliknya, emosi Anda pun mempengaruhi kualitas pikir anda. Untuk mudahnya, saya beri gambaran, Anda cerdas secara emosional bila nalar Anda sanggup mengarahkan ekspresi emosi Anda.



Linus Torvalds, Sang Pencipta Linux

Dari Milis


Linus Torvalds lahir di Helsinki, Finlandia, pada tanggal 28 Desember 1969. ketika usianya baru 10 tahun dia sudah mulai berkecimpung dalam urusan pembuatan pemrograman computer melalui komputer Commoore VIC-20 milik kakeknya.


Pada tahun 1988, Linus kuliah di university of Helsinky, Finlandia. Disana dia mulai mengenal pemrograman C. Untuk lebih memperdalam ilmunya, Linus kemudian membeli sebuah komputer yang kala itu masih menggunakan MS-DOS buatan microsoft sebagai sistem operasinya. Tapi, kala itu Linus justru lebih tertarik pada komputer milik universitasnya yang menggunakan sistem operasi UNIX. Ia pun coba mengembangkan sistem operasi yang memadai untuk PC UNIX. Beberapa bulan kemudian Linus berhasil membuat versi kasarnya yang diberi nama Linux. Nama Linux mungkin saja merupakan akronimdari Linus dan UNIX.



[Motivasi] Ubah Dulu Yang Di Dalam

Dari Milis


Saat renovasi rumah, si empunya rumah sudah merencanakan untuk memasang sebuah lukisan potret keluarga di ruang tamu yang telah ditatanya dengan indah. Lukisan itu telah dipesannya melalui seorang seniman pelukis wajah yang terkenal dengan harga yang tidak murah. Tetapi, saat lukisan itu tiba di rumah dan hendak di pasang, dia merasa tidak puas dengan hasil lukisan dan meminta si pelukis merevisiya sesuai dengan gambar yang dibayangkan. Apa daya, setelah diperbaiki hingga ke tiga kalinya, tetap saja ada sesuatu yang tidak disukai pada lukisan tersebut sehingga setiap si pemilik rumah melintas ruang tamu, selalu timbul ketidakpuasan dan kekecewaan. Itu sangatlah mengganggu pikirannya. Menjadikan dirinya tidak senang, uring-uringan, jengkel, kecewa dan sebal dengan ruang tamunya yang indah itu. Semua gara-gara sebuah lukisan!


Suatu hari, datang bertamu satu keluarga sahabat ke rumah itu. Sahabat ini termasuk pengamat seni yang disegani di lingkungannya. Saat memasuki ruang tamu, setelah bertukar sapa dengan akrab dengan tuan rumah, tiba-tiba mereka bersamaan terdiam di depan lukisan potret keluarga itu. Si tuan rumah buru-buru menyela, "Teman, tolong jangan dipelototi begitu dong. Aku tahu, lukisan itu tidak seindah seperti yang aku mau, tetapi setelah di revisi beberapa kali jadinya seperti itu, ya udah lah, mau apalagi?" "Lho, apa yang salah dengan lukisan ini? Lukisan ini bagus sekali, sungguh aku tidak sekedar memuji. Si pelukis bisa melihat karakter obyek yang dilukisnya dan menuangkan dengan baik di atas kanvas, perpaduan warna di latar belakangnya juga mampu mendukung lukisan utamanya. Betul kan bu?" Tanyanya sambil menoleh kepada istrinya.


"Iya, lukisan ini indah dan berkarakter. Jarang-jarang kami melihat karya yang cantik seperti ini. Kamu sungguh beruntung memilikinya", si istri menambahkan dengan bersemangat. Kemudian mereka pun asyik terlibat diskusi tentang lukisan itu.



[Renungan] 3 x 8 = 23

Yan Hui adalah murid kesayangan Confucius yang suka belajar, sifatnya baik. Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumuni banyak orang. Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.


Pembeli berteriak: “3×8 = 23, kenapa kamu bilang 24?”


Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: “Sobat, 3×8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi.”


Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: “Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan.”


Yan Hui: “Baik, jika Confucius bilang kamu salah, bagaimana?”



Ketika Hati Berbicara

Dari Milis


Assalaamu'alaikum Wr. Wb.


Jangan pernah bosan tuk membersihkan hati, sebab debu tak pernah berhenti mengotori.., jangan pernah jenuh pula tuk menyegarkannya, sebab aktifitas melelahkan selalu melemahkan kesegarannya!, sebagaimana kita selalu bersihkan dan segarkan diri, maka jangan lupa pula bahwa kebersihan dan kesegaran Hati jauh lebih kita butuhkan...


Sahabat seiman, kotoran fisik dapat tercium dan terdeksi dengan mudah.. tetapi kotoran hati akan dapat terdeteksi dengan perenungan dan lapang dada.. siapa yang mengira, bahwa sulitnya menerima taqdir dan sempitnya dada untuk menerima kebenaran, serta beratnya diri menjalani ketaatan adalah sebuah kotoran yang harus dibersihkan. .? betapa mudahnya diri mentolerir kotoran sombong, malas dan lemah untuk sebuah kebenaran..!


Sahabat seiman, perenungan dan lapang dada mampu menghadirkan kerinduan untuk menunaikan nilai Islam, meniti jalan keta'atan, dan menerima keputusan.. betapa sadarnya jiwa yang bersih bahwa sambutan seruan kebaikan merupakan sinyal keridhoan Allah Swt, yang menjadikan seseorang rendah hati, bersemangat dan selalu kuat di hadapan kebenaran..!


Sahabat seiman, akan kemanakah sekeping hati ini dibawa berlari..? menuju lembah kesesatan yang sempit menghimpitkah atau ke lembah hidayah yang luas penuh berkah..? bukankah telah jelas perbedaan keduanya..? bukankah telah terbentang luas jalannya..? tunaikan tugasmu penuh semangat dan temukan keridhoan Allah Swt di balik keletihan, peluh keringat dan penat persoalannya. .! (SaiBah) (disarikan dari Q.S. Al An'am: 125)

Kebaikan yang tertinggal

Dari Milis


Assalamu'alaikum Wr. Wb.


Sahabat seiman.., nikmat pagi kembali menjelang.., nikmat-nikmat lainnya akan turun temurun mengiringi.. , entah, berapa nikmat yang belum tersyukuri , dan berapa banyak kekufurannya tidak kita sadari.. seharusnya iman di hati dapat terawat dan bertambah setiap kali menyaksikan nikmat yang Kau beri tak henti-henti. . Ashbahnaa wa ashbahal mulku lillaah



Kekuatan dibalik kelemahan

Dari Milis


Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.


Sahabat seiman..,


Pagi yang cerah hanya akan berarti bagi yang benar-benar membutuhkannya. . apalah arti hidangan lezat yang disodorkan bagi orang yang sudah kenyang.., atau bagi orang yang sakit memiliki pantangan.. lihatlah bagaimana besryukurnya si lapar ketika mendapatkan santapan makanan.., atau sang penderita sakit parah menahun yang mendapat kesembuhan.. seperti itulah seharusnya kita menatap setiap tetes nikmat yang tertumpah deras kepada diri..



Jumat, 15 April 2011

Biografi R.A. Kartini

Menyabut hari Kartini yang jatuh hari ini, saya akan mencoba menulis tentang Biografi R.A. Kartini. Tanpa banyak Cing Cong, langsung saja kita mulai.


Raden Adjeng Kartini atau lebih tepatnya disebut Raden Ayu Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, pada tanggal 21 April 1879. Ia lahir sebagai golongan priyayi atau kelas bangsawan Jawa. R.A. Kartini merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.


Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana ( Pemerintahan di bawah kabupaten pada jaman Hindia Belanda ) di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.



[Story] Menabur dan menuai

Dari Milis


Pada suatu hari seorang pemuda sedang berjalan di tengah hutan, tiba-tiba ia mendengar jeritan minta tolong. Ternyata ia melihat seorang pemuda sebaya dengan dia sedang bergumul dengan lumpur yang mengambang. Semakin bergerak malah semakin dalam ia terperosok. Pemuda yang pertama tadi hendak sekuat tenaga memberikan pertolongannya. Dengan susah payah pemuda yang terperosok itu dapat diselamatkan. Pemuda yang pertama tadi memapah pemuda yang terperosok itu pulang ke rumahnya.


Ternyata si pemuda kedua ini anak orang kaya. Rumahnya sangat bagus, besar dan mewah luar biasa. Ayah pemuda ini sangat berterimakasih atas pertolongan yang diberikan kepada anaknya dan hendak memberikan uang, tetapi pemuda pertama tadi menolak pemberian tersebut. Ia berkata bahwa sudah selayaknya sesama manusia menolong orang lain yang sedang dalam kesusahan. Sejak kejadian ini mereka menjalin persahabatan.



[STORY] Operator Telepon

Dari Milis


Waktu saya masih amat kecil, ayah sudah memiliki telepon di rumah kami. Inilah telepon masa awal, warnanya hitam, di tempelkan di dinding, dan kalau mau menghubungi operator, kita harus memutar sebuah putaran dan minta disambungkan dengan nomor telepon lain. Sang operator akan menghubungkan secara manual.


Dalam waktu singkat, saya menemukan bahwa, kalau putaran di putar, sebuah suara yang ramah, manis, akan berkata : "Operator". Dan si operator ini maha tahu.


Ia tahu semua nomor telepon orang lain!



[STORY] Bersama Kita Bisa Melewati Semuanya

Dapet dari milis


Bob Butler kehilangan kedua kakinya karena ledakan ranjau saat perang Vietnam tahun 1965. Dia pulang sebagai seorang pahlawan perang. Dua puluh tahun kemudian, dia membuktikan bahwa heroisme itu datang dari dalam hati.


Butler sedang bekerja di dalam garasi di sebuah kota kecil di Arizona pada suatu hari di musim panas. Saat itu dia mendengar teriakan histeris seorang wanita dari belakang rumah tetangganya. Dia mengayuh kursi rodanya ke rumah itu dan menuju ke halaman belakang. Tetapi ada pagar terkunci yang tidak memungkinkan kursi roda itu lewat. Veteran itu kemudian turun dari kursi, melompati pagar dengan kedua tangannya dan merayap dengan secepatnya melewati semak dan rerumputan.


“Saya harus segera sampai ke sana ,” katanya. “Tidak peduli apakah itu akan menyakitkan dan melukai tubuhku sendiri.”



Senin, 11 April 2011

[STORY] Tukang Roti dan Petani

Seorang tukang roti di sebuah desa kecil membeli satu kilogram mentega dari seorang petani. Ia curiga bahwa mentega yang dibelinya tidak benar-benar seberat satu kilogram. Beberapa kali ia menimbang mentega itu, dan benar, berat mentega itu tidak penuh satu kilogram. Yakinlah ia, bahwa petani itu telah melakukan kecurangan. Ia melaporkan pada hakim, dan petani itu dimajukan ke sidang pengadilan.


Pada saat sidang, hakim berkata pada petani, "Tentu kau mempunyai timbangan?"


"Tidak, tuan hakim," jawab petani.


"Lalu, bagaimana kau bisa menimbang mentega yang kau jual itu?" tanya hakim.


Petani itu menjawab, "Ah, itu mudah sekali dijelaskan, tuan hakim. Untuk menimbang mentega seberat satu kilogram itu, sebagai penyeimbang, aku gunakan saja roti seberat satu kilogram yang aku beli dari tukang roti itu."


Cukup banyak contoh kekesalan kita pada orang lain berasal dari sikap kita sendiri pada orang lain.

[STORY] 2 Negro dalam lift

Dari milis

Baru-baru ini di Atlantic City - AS, seorang wanita memenangkan sekeranjang koin dari mesin judi. Kemudian ia bermaksud makan malam bersama suaminya. Namun, sebelum itu ia hendak menurunkan sekeranjang koin tersebut di kamarnya. Maka ia pun menuju lift.


Waktu ia masuk lift sudah ada 2 orang hitam di dalamnya. Salah satunya sangat besar . . . Besaaaarrrr sekali. Wanita itu terpana. Ia berpikir, "Dua orang ini akan merampokku." Tapi pikirnya lagi, "Jangan menuduh, mereka sepertinya baik dan ramah."


Tapi rasa rasialnya lebih besar sehingga ketakutan mulai menjalarinya. Ia berdiri sambil memelototi kedua orang tersebut. Dia sangat ketakutan dan malu. Ia berharap keduanya tidak dapat membaca pikirannya, tapi Tuhan, mereka harus tahu yang saya pikirkan!